Masa-masa sekarang ini boleh dibilang masa paling sulit bagi pedagang roti. Betapa tidak, hampir semua bahan roti naik, sementara daya beli masyarakat berjalan di tempat. Bagaimana mereka bisa bertahan?"Jadi kalao masih bisa bertahan, itu bersyukur banget. Banyak yang sudah gulung tikar," kata Sukanda, pekerja di toko roti Jalan Haji Jamil, Pasar Baru, Kota Tangerang.
Usaha roti milik Haji Sujarwo itu telah berdiri sejak tahun 1960. Kini sedang kini sedang mengalami masa-masa paling gelap selama usahanya. Alasan kenaikan harga bahan baku roti saat ini seakan berlangsung serentak tanpa ada yang bisa mengendalikan.
Harga bahan utama roti, yakni terigu kelas satu yang semula Rp. 120.000, kini menjadi Rp. 164.000 per ba l(25 kg). Sedang harga telur naik dari Rp. 9.000 per kg jadi Rp. 12.000 / kg. Padahal, telur juga menjadi bagian terpenting dalam membikin adonan roti. "Tidak mungkin adonan roti dikurangi telur atau menteganya, karena itu jelas masalah kualitas. Untuk 10 kg tepung dibutuhkan sekitar satu kilogram telur," jelas Sukanda.
Lalu bagaimana mengatasinya? Menurut Sukanda yang paling mungkin tentunya bukan mengurangi kualitas, tapi mengecilkan ukuran roti yang mereka jual. Dan itu sudah dilakuikan sejak sebulan lalu. Dengan cara itu, Haji Sujarwo masih bisa mempertahankan 10 karyawannya, sedang 57 pengecer roti masih mampu bekerja meski dengan untung seadanya.
Setiap hari usaha roti milik Haji Sujarwo membuat 3.000 roti manis dan 400 roti tawar. Dengan ukuran kecil jumlah produksi yang mereka buat bertambah 50-100 untuk roti manis dan 25-25 roti tawar. "Sepintas perubahan ukuran roti itu tidak tampak. Tapi kalau kita tahu adonannya pasti akan sadar akan perubahan itu," ucap Sukanda.
Mungkin contohnya, tambah Sukanda, kalao satu adonan untuk roti manis beratnya sekitar 50 gram, sekarang jadi 40 kg. Berkurangnya berat itu adalah pengurangan jumlah tepung yang digunakan. "Ya, itu pasti berpengaruh pada pembeli. Tapi apa boleh buat, begitulah strategi bertahan pedagang roti," tutur Sukanda.
Strategi bertahan itu akan berakhir jika semua bahan baku roti kembali ke harga semula. Tapi sampai kapan itu terjadi, Sukanda hanya geleng kepala. "Gelap," katanya pelan.
Sumber : Warta Kota
| < Prev | Next > |
|---|

