Sungguh mengerikan jika dihadapkan pertanyaan seperti itu apalagi bagi sahabat-sahabat kuliner yang suka mengkonsumsi pangan berbahan baku kedelai ini. Mengapa bisa muncul pertanyaan tersebut? Berdasarkan Warta Kota (Sabtu, 12/01 08) harga kedelai, bahan utama pembuat tahu dan tempe terus naik. Terakhir mencapai Rp. 7.300/kg hingga Rp. 8.000/kg, dari yang semula harganya Rp. 3.500/kg.
Stok kacang kedelai sebenarnya tersedia namun karena harga jualnya yang tinggi bagi para pengrajin tahu dan tempe sehingga mengurangi jumlah produksi dan ukuran atau bahkan membuat harganya melambung bagi para pedagang tahu tempe. Akibatnya pun kita harus membelinya dalam harga yang tinggi dan bahkan pangan tahu tempe ini menjadi langka di pasar.
Dengan naiknya harga kedelai membuat ribuan pengrajin tahu tempe berunjuk rasa ke Istana Merdeka dan Gedung MPR-RPR di Jakarta pada hari Senin tanggal 14 Januari 2008.
Import Kedelai
Sejauh ini, sebagian besar kedelai untuk kebutuhan dalam negeri menggunakan kedelai impor. Naiknya harga kedelai import asal Argentina dan Amerika Serikat dan naiknya 100% untuk harga kedelai international turut pengaruhi harga kedelai di Indonesia.
Sementara itu kedelai import dikenakan Bea Masuk (BM) kedelai sebesar 10%. Kemarin pemerintah memutuskan untuk menghapus BM kedelai import. Namun tidak untuk selamanya penghapusan BM kedelai import tergantung pada perkembangan harga kedelai dunia. Pemerintah juga ingin memberi insentif kepada petani kedelai untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan akan mengatasi hambatan import kedelai, menurut Mentri Perdagangan, Mari E. Pangestu.
Singkong Penganti Kedelai
Sebagian produsen tempe di Purwakarta menjadi solusi yaitu dengan melirik singkong sebagai bahan campuran kedelai. Langkah ini dinilai sebagai pilihan yang dapat diambil menurut Wakil Ketua Paguyuban Pedagang Tempe Purwakarta. Banyak pembeli yang sudah tahu dan malah berkomentar cukup bagus dan tempe jadi lebih tahan lama maksimal 3 hari. Digunakannya bahan campuran singkong dikarenakan harga singkong yang masih terjangkau.
Pengelolahannya yaitu singkong diparut, dicuci air bersih sebelum disiram air mendidih. Kemudian singkong dibiarkan dingin sebelum dicampur kedelai yang sudah diolah. Campuran tersebut akan diberi ragi untuk proses selanjutnya.
Tapi bagaimana kalao singkong harganya juga ikut naik? Apaglagi dalam bulan ini kita sudah dapat berita bahwa minyak tanah, beras, ikan asin, tepung tinggi harganya naik. Yah semoga Indonesia dapat meningkatkan pengetahuan untuk mengolah dan memberdayakan serta memelihara sumber daya alam yang ada. Katanya dulu Indonesia kaya lho... Apalagi sekarang dengar-dengar mengenai masalah hak paten.
Apakah yang harus kita lakukan?
| < Prev |
|---|


